Skip to content

Rahasia Pola Bicara Persuasif Tokoh Bisnis dan Presiden

Kenapa ada orang-orang yang lebih didengarkan dan diperhitungkan ketika bicara? Bahkan ketika bicara tentang sesuatu yang terdengar kurang logis, orang tetap larut dengan ide-ide mereka. Ternyata mereka menggunakan formula dan pola tertentu ketika berbicara. Pola bicara persuasif ini sering digunakan oleh figur kharismatis dunia mulai dari tokoh bisnis, tokoh spiritual, hingga presiden.


Coba bandingkan dua kalimat berikut, dan tentukan mana yang lebih menarik?

Yang pertama:
“Kami membuat smartphone berkualitas tinggi. Produk kami mudah dioperasikan dan desainnya indah. Tertarik untuk membeli?”

Yang kedua:
“Kami selalu menantang diri sendiri agar tidak terjebak dengan produk yang fiturnya itu-itu saja. Kami terus berpikir untuk melalukan sesuatu yang berbeda. Itulah kenapa produk-produk kami didesain dengan indah, dibuat sedemikian rupa agar lebih mudah digunakan oleh pelanggan kami. Produk kami adalah smartphone yang berkualitas tinggi. Tertarik untuk membeli?”

Kalau Anda lebih tertarik dengan kalimat yang kedua, sangat wajar dan Anda termasuk orang pada umumnya.

Mulai Dengan Why

Meskipun kalimat pertama dan kedua memiliki esensi yang sama tapi urutan kerangka komunikasinya berbeda. Kalau Anda perhatikan di kalimat pertama, komunikasinya dimulai dengan “What” atau apa yang sedang dibicarakan, yaitu smartphone berkualitas tinggi. Lalu diikuti dengan “How” atau bagaimana produk smartphone itu telah dibuat. Kemudian diakhiri dengan pertanyaan untuk memancing Anda merespon. Sementara di kalimat kedua, komunikasi dilakukan dengan menjelaskan “Why” atau alasannya dulu, yaitu “…menantang diri sendiri agar tidak terjebak dengan produk yang fiturnya itu-itu saja. Kami terus berpikir untuk melakukan sesuatu yang berbeda.”, diikuti dengan “How”, yaitu bagiamana produk itu disajikan (sesuai dengan alasan sebelumnya), lalu disebutkan “What” yaitu apa produknya. Kemudian ditutup dengan pertanyaan untuk memancing Anda merespon.

Urutan komunikasi “Why-How-What” inilah yang membuat Anda dan banyak orang lainnya lebih memilih membeli produk tersebut. Why diletakkan di depan untuk memberikan alasan kuat dan menciptakan rasa penasaran ke orang lain. Why juga membangun kesamaan dengan orang lain, sehingga orang lain akan berpikir “ini gue banget nih..!”. Why adalah konteksnya. How dan what diletakkan kemudian untuk menjelaskan kontennya.

 

Seringkali kita bicara dengan acak tanpa urutan dan pola yang jelas, sehingga pendengar menjadi kurang yakin dan bingung karena pesa

rahasia-pola-bicara-persuasif-tokoh-bisnis-dan-presiden

    Why First – How & What Nextp

n kita loncat-loncat sehingga tidak bisa menembus logika dan emosi mereka. Simon Sinek, seorang leadership expert yang kerap tampil di TED Talks, memberikan formula komunikasi “Why-How-What” ini dalam konteks bagaimana perusahaan bisa meningkatkan bisnisnya dengan signifikan. Dalam konteks pengajaran seperti pelatihan atau workshop, Anda bisa membalik What dan How sehingga uturannya menjadi “Why-What-How”, karena umumnya pembicara mengatakan apa yang akan dilakukan dulu baru kemudian menunjukkan bagaimana cara melakukannya. Yang peru disimak adalah Why-nya tetap diletakkan di depan.

  • Top Leaders Use The Formula and You Can Use It Too
  • Kalau Anda perhatikan, para tokoh bisnis dunia seperti Steve Jobs, Jack Ma, Richard Branson atau Bill Gates banyak menggunakan formula ini ketika melakukan presentasi. Begitupula para Presiden dunia juga menggunakan pola yang sama ketika bicara di depan publik terutama ketika sedang menjual ide dan pemikirannya.

Ngomong-ngomong, dua kalimat di atas adalah contoh dari iklan Apple yang sedikit saya modifikasi agar Anda tidak segera tahu kalau itu adalah iklan Apple. Apple menjadi perusahaan besar dan terbaik dalam bidangnya salah satunya karena teknik komunikasi ini.

So, coba gunakan hari ini dalam komunikasi Anda dan buktikan hasilnya.

Salam Kharisma,

Fay Irvanto
www.fayirvanto.com

Join grup online Gratis Leadership Charisma Class untuk ilmu kepemimpinan kharismatis lainnya.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *