Skip to content

Leadership Charisma Failure: Musuh Terselubung Dibalik Kegagalan Bisnis

Tahukah Anda apa sebenarnya penyebab kegagalan sebuah Bisnis? Kalau mau benar-benar jujur dan menghilangkan alasan dan penjelasan panjang lebar, penyebabnya hanya satu. Kepemimpinan yang gagal. Dan sebenarnya tidak ada bisnis yang gagal. Yang ada adalah kepemimpinan yang gagal. Sebuah penelilitan ilmiah yang dilakukan pada satu perusahaan pesar yang hampir kolaps berhasil membongkar ancaman dan musuh terselubung dibalik runtuhnya suatu bisnis. Salah satu penyebab kegagalan bisnis tersebut adalah kegagalan dari para pemimpin di perusahaan tersebut. To be exact, It’s their Leadership Charisma Failure. 

Pada tahun 2012 sebuah studi dilakukan terhadap German Railway Company yang sedang menuju ambang kebangkrutan. Perusahan kerta api yang telah menjadi aset strategis nasional selama puluhan tahun ini mengalami penuruan kinerja dan penurunan penjualan yang sangat drastis. Singkat cerita perusahaan ini siap gulung tikar. Ini merupakan tekanan besar baik terhadap perusahaan  sendiri maupun terhadap kondisi ekonomi negara. Management dan pemerintah tidak tinggal diam dan segera mengantisipasi kondisi perusahaan yang makin terpuruk. Setidaknya empat ahli dari universitas ternama dari Amerika, Inggris dan Jerman diturunkan untuk melakukan studi akar masalah dari kegagalan perusahaan.

Para peneliti melakukan studi dengan berbagai metode dan salah satunya adalah dengan cara melakukan survey dan interview terhadap para pemimpin perusahaan dan para karyawannya. Tujuannya adalah mengetahui apakah ada kaitan antara kualitas kepemimpinan para leaders di perusahaan terhadap jatuhnya kinerja bisnis.

Charisma and Business Failure

Studi yang dilakukan menyimpulkan satu hasil yang sangat menarik. Terbukti bahwa penurunan kinerja perusahaan ini berasal dari kegagalan leadership dari para pemimpin jajaran menengah maupun jajaran atas di perusahaan. Para peniliti menemukan adanya hubungan erat antara penurunan performa perusahaan dengan perilaku kepemimpinan mereka dalam menjalankan bisnis dan melakukan perubahan-perubahan di dalam organisasi. Hasil penelitian semakin mengkerucut dan menunjukkan bahwa semakin besar tingkat karisma dalam satu organisasi akan berdampak pada semakin tinggi komitmen yang diberikan oleh pekerja. Komitmen pekerja ini berdampak ke semakin tinggi pula peningkatan kinerja tim. Ujungnya hal ini berdampak pada peningkatan kinerja perusahaan. Tingkat karisma kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh perilaku-perilaku tertentu yang dilakukan oleh para pemimpin di organisasi tersebut. Kualitas kepempininan dan perilaku-perilaku tersebut disebut sebagai Leadership Charisma.

Yang menarik dari studi ini adalah bahwa Karisma adalah persespsi yang ditangkap oleh orang lain dikarenakan pemimpin melakukan perilaku-perilaku tertentu yang membuat aura karisma kepemimpinannya memancar. Artinya semakin bagus perilaku kepemimpinan Anda maka akan semakin bagus pula persepsi para pengikut Anda terhadap karisma kepemimpinan Anda.

 

Sebuah studi terpisah yang dilakukan oleh tim dari Harvard University juga mendukung hasil studi diatas. Dalam studi ini, sekelompok pemimpin sebuah organisasi dipecah menjadi dua kelompok kecil dan kemudian diberi perlakukan berbeda di masing-masing kelompok. Kelompok pertama diminta untuk berperilaku tertentu secara spesifik yang membuat mereka lebih berkarisma dalam kurun waktu yang terlah ditentukan. Sedangkan kelompok kedua dibiarkan menjalankan tugas kepemimpinannya tanpa perlakuan khusus. Hasilnya, kelompok  pemimpin pertama yang menunjukkan perilaku-perilaku terntentu yang membuat mereka lebih karismatis mendapatkan respon positif dari para pengikutnya. Bahkan hasil menunjukkan bahwa tingkat kompentensi dan ekftifitas kepimpinan mereka meningkat sebanyak 60%.

Kaitan erat antara tingkat karisma seroang pemimpin dengan tingkat kinerja tim dalam satu perusahaan juga didukung oleh pernyataan Professor Joseph Frank Bernstein dari Organizational Studies dari Wharton – University of Pensylvania. Dalam Jurnalnya Professor Joseph mengatakan “Pemimpin berkarisma membuat pengikutnya  menjadi berkomitmen lebih tinggi, berkorban lebih banyak  dan memberi lebih dari yang diminta”.

Charisma Matters

Oleh karena itu sangat penting sekali seorang leader dalam satu organisasi memiliki atribut dan perilaku yang bisa meningkatkan karismanya untuk menjaga keberlangsungan organisasi, mengangkat motivasi dan komitment tim, dan meningkatkan performa organisasi. Perusahaan-perusahaan besar seperti Google, Apple, Micorsoft, Nestle, Toyota, dan lain-lain selalu memiliki sosok dan icon pemimpin puncak yang karismatis. Bahkan kita juga bisa melihat hadirnya sosok pemimpin karismatis di organisasi-organisasi non profit seperti United Nations, Green Peace, dan lain-lain.

“Pemimpin berkarisma membuat pengikutnya  menjadi berkomitmen lebih tinggi, berkorban lebih banyak  dan memberi lebih dari yang diminta”.

Anda juga bisa memperhatikan di dalam lingkungan Anda sehari-hari, siapakah sosok pemimpin yang memiliki kharisma dan bagimana mereka bisa memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap orang-orang disekitarnya.

Di dalam kelas charisma coaching saya beberapa kali saya jumpai para pemimpin bisnis yang sedang mengalami penurunan kinerja tim dan salah satu penyebabnya adalah rendahnya kharisma kepimpinan di organisasi tersebut. Oleh karena itu untuk menjaga kebersinambungan bisnis Anda dan menjaga tingkat performa tim Anda, maka pastikan Anda memiliki Leadership Charsima yang kuat.

Untuk mengetahui tips dan teknik untuk meningkatkan leadership charisma Anda, simak tulisan-tulisan dan video saya lainnya di website saya atau di grup Facebook  saya “Becoming Charismatic Leader”. Klik di sini untuk bergabung.

Salam Karisma,

Fay

Charismatic Leadership  Guru

SHARE JIKA BERMANFAAT

Follow twitter saya di @fayirvanto

Referensi: 1. The Leadership Quarterly 24 (2013) 378–389 Journal – Charisma and organizational change: A multilevel study of perceived charisma, commitment to change, and team performance. | 2. Learning Charisma (June 2012)- Harvard Business Review article

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *